3 Jun 2016

Pendakian Gunung Guntur (2249 mdpl)


Pendakian Gunung GunturGunung Guntur terletak di wilayah barat Garut Jawa Barat, gunung ini memiliki puncak dengan ketinggian 2.249 mdpl. Gunung api paling aktif di tahun 1800-an ini pertama kali didaki pada tahun 1837 oleh seorang botanis dan geologis berkebangsaan Prusia (sekarang Jerman) bernama Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn.

Beliau menemukan jalur paling mudah dan cepat menuju puncak gunung Guntur, yaitu lewat jalur curug Citiis. Junghuhn benar-benar mencintai lanskap pegunungan di Indonesia, dia mencoba mendaki Gunung Guntur karena gunung ini merupakan gunung api paling aktif di tanah jawa pada periode tahun 1800-an. Beliau meninggal di rumahnya yang berada di sekitar Lembang Bandung, dengan mewariskan banyak karya hasil penelitian dan pendakiannya di gunung-gunung api pulau Jawa.

Sesuai dengan informasi di atas, penulis pun melakukan pendakian Gunung Guntur ini melalui jalur Citiis. Perjalanan dimulai dari gerbang desa Tanjung Kidul setelah menaiki mobil umum jurusan Leles Garut dari terminal Guntur. Perjalanan selanjutnya menuju curug citiis dapat dilalui dengan menumpang truk penambang pasir. Dengan biaya perorang hanya Rp.10.000,- saja, rasanya cukup sepadan jika dibandingkan harus berjalan jauh melewati kawasan penambangan pasir yang panas dan berkelak-kelok dengan jarak yang jauhnya minta ampun.



Bagi penulis, perjalanan dengan menggunakan truk pasir ini benar-benar sangat menyenangkan. Medan yang terjal dan menanjak dengan pemandangan kawasan tambang pasir yang luas dapat kita nikmati dari atas bak mobil, sambil berusaha menahan guncangan akibat jalanan batu yang di lewati sopir truk dengan sangat cekatan. Sebelum menuju Curug Citiis, alangkah baiknya melakukan pendaftaran dulu di basecamp gunung guntur, demi keamanan pendakian yang kita lakukan. Di sini kita hanya melakukan mendaftaran nama dan nomor hp yang dihubungi saja, tanpa harus mengeluarkan biaya pendaftaran sepeser pun.


Setelah turun dari truk pasir di kawasan penambangan paling akhir, perjalanan dilanjutkan dengan melewati jalur dengan ilalang di tepian menuju kawasan curug Citiis. Jalur yang menurun tajam menuju kawasan curug, berlanjut dengan jalur menanjak terjal dan berbatu yang cukup panjang dan sulit dilewati. Keringat deras mulai keluar dari tubuh penulis saat melewati tanjakan terjal ini. Setelah itu, kita akan tiba di pos 3 atau pos basecamp volunteer Gunung Guntur.



Disini kita harus melakukan pendaftaran lagi sebelum melanjutkan perjalanan panjang menuju puncak gunung Guntur. Di sini pula kita dapat mengambil kebutuhan air untuk perjalanan puncak gunung guntur dan turun esok harinya. Perhatikan baik-baik kebutuhan air kelompok dan waktu yang akan dilalui untuk pendakian puncak hingga turun gunung, pastikan anda membawa cukup air, karena ini merupakan sumber air terakhir sebelum pendakian menuju puncak guntur.


Tiba saatnya perjalanan summit attack, perjalanan panjang menanjak melewati padang rumput kering di kanan-kiri jalanan menuju puncak tertinggi gunung guntur. Medan yang dilalui cukup sulit dengan permukaan tanah berpasir yang sangat berdebu. Pastikan anda membawa masker, slayer atau apapun sebagai pelindung dari debu yang berterbangan di jalur ini. Dilihat dari bawah, jalur menuju puncak ini terlihat tak terlalu jauh dan menantang, namun ternyata asumsi tersebut salah total, tanjakan menuju puncak gunung guntur ini benar-benar ekstrem.

Kemiringan yang semakin atas semakin curam, batuan yang sering jatuh bergulir ke bawah, serta tak adanya shelter untuk beristirahat benar-benar menjadi kombinasi sempurna yang membuat tanjakan ini saya namakan tanjakan tanpa ampun. Dibutuhkan kehati-hatian ekstra untuk dapat selamat hingga sampai di puncak gunung Guntur. Tak jarang terjadi kecelakaan menimpa para pendaki yang tak ekstra hati-hati melalui jalur ekstrem ini.


Setelah melalui perjuangan panjang nan melelahkan dalam menaklukkan tanjakan tanpa ampun, akhirnya tiba juga kami di atas puncak Gunung Guntur. Kabut pekat menyambut kedatangan kami, menyajikan udara dingin yang mulai menusuk tulang. Kami pun bergegas mencari tempat untuk mendirikan tenda tempat kami akan bermalam. Suasana di atas puncak gunung guntur saat itu sangat ramai oleh tenda yang telah didirikan para pendaki, menurut kabar, jumlah pendaki yang menuju puncak guntur saat itu mencapai seribuan orang.

Malam cepat datang setelah kami mendirikan tenda dan memasak makanan dan minuman hangat. Keramaian di puncak menyajikan pemandangan indah cahaya senter para pendaki yang mengitari lembah puncak Gunung Guntur.

Keramaian memuncak saat kabut mulai pudar dan langit penuh bintang mulai terbuka di atas kepala kami, dimulai oleh beberapa kelompok pendaki yang menyanyikan lagu dengan keras, pendaki lain pun ikut bernyanyi sambil menyalakan senter-senter mereka menghasilkan pemandangan dan suasana yang luar biasa indah dan mengharukan. Nyanyian seluruh pendaki membahana membelah keheningan malam di puncak gunung guntur yang sepi, sungguh suasana malam yang tak akan pernah kami lupakan di tanah tinggi ini.


Esoknya kami menunggu sunrise puncak gunung guntur yang terkenal indah muncul di pagi hari, sayangnya kabut tebal menjadi tembok penghalang yang membuat kami sedikit kecewa tak dapat menikmati momen indah sunrise di Gunung Guntur. Meski sempat terbuka memperlihatkan bulat matahari pagi, namun kabut ini kembali menutupi pandangan sekitar puncak gunung Guntur.



Kemudian kami memasak makan pagi dengan ceria. Menu-menu seperti telur dadar, sayur sop, serta nugget goreng menjadi teman nasi sarapan pagi kami. Menu yang lumayan bergizi ini menopang perjalanan kami menuju puncak guntur sedikit lagi di atas sana. Perjalanan menuju puncak dari tempat kami bermalam tidak terlalu jauh. Tanjakannya memang sangat curam, namun jarak yang tak terlalu jauh memudahkan kami dalam melangkah menuju puncak pertama gunung Guntur.

Dari atas puncak pertama gunung guntur, kami dapat melihat puncak-puncak lainnya di kejauhan. Namun kali ini, kami memutuskan untuk menjejak puncak pertama saja, dikarenakan keterbatasan waktu yang kami miliki. Pemandangan di atas puncak hampir sama dengan di lembah tempat kami bermalam.

Dan lagi-lagi sayangnya kabut terus menutupi pandangan kami. Tapi tak apa-apa, meski tak mendapat banyak momen dengan view bagus, pendakian kali ini tetap sangat berkesan dan menyenangkan. Seluruh proses perjalanan menuju puncak gunung guntur kami nikmati dengan canda tawa. Banyak momen berkesan yang telah kami lalui bersama, terutama saat menaklukan tanjakan tanpa ampun kemarin sore.


Akhirnya, setelah puas berfoto, kami pun memutuskan untuk segera turun gunung. Jalur yang kami lalui sama dengan kemarin, yakni melewati tanjakan tanpa ampun yang kali ini menjadi turunan super curam yang bisa saja mencelakai pendaki jika tak ekstra hati-hati. Kecelakaan saat turun gunung kami lihat dengan jelas terjadi di depan kami, karena tak hati-hati, beberapa pendaki mengalami cedera setelah jatuh menimpa tanah bebatuan kecil.


Alhamdulillah perjalanan turun kami lalui dengan lancar tanpa ada yang terluka. Satu kejadian buruk yang kami temukan saat perjalanan turun adalah saat timbul kebakaran kecil yang dibuat oleh oknum tak bertanggungjawab. Untung saja para pendaki guntur dengan sigap bergotong-royong bersama berusaha memadamkan api yang menyala hingga benar-benar padam.



Kenakalan seperti ini sungguh sangat menjengkelkan, karena bukan hanya merusak hutan, kejadian seperti ini juga dapat merenggut banyak nyawa. Bagi kawan-kawan pendaki, jika melakukan kegiatan pembakaran api unggun, pastikan dulu apinya benar-benar padam sebelum kita tinggalkan, demi mencegah terjadinya kebakaran yang berbahaya bagi semua pihak. sekian cerita pendakian gunung guntur yang penulis berikan, semoga bermanfaat untuk kawan-kawan semua, Salam Lestari!

Vandalisme, kreativitas tidak pada tempatnya


Punya cerita pendakian seru dan ingin kamu share di bluetripper.com, silahkan kirim cerita pendakianmu via e-mail ke alamat bluetripper18@gmail.com. Mari bercerita tentang mendaki!


Baca juga :

14 comments

peace ihsan said...

Salam Lestari Kak

The Bluetripper said...

salam lestari juga, hehe

oki said...

Permisi, mau tanya.. Total perjalanan brp jam ya?? Kira2 air yg dibutuhkan/harus diambil dr sumber mata air brp liter per orang??

The Bluetripper said...

waktu perjalanan tergantung dari kecepatan jalannya om, kalo santai mungkin 4-5 jam juga udah nyampe puncak satu,
kalo air, kebutuhan tiap orang biasanya 2-3 liter, tambahin aja buat masak secukupnya, kalo takut kekurangan bawa cukup banyak aja buat cadangan, tapi resikonya beban perjalanan jadi lebih berat, hehe

Jeannie Raeshita said...

Salam Lestari,

Keren kak, menginspirasi banget

The Bluetripper said...

terima kasih, hehe

Aries Iskandar Baratayudha said...

Minta nmer pnjaga gunung guntur dong ? Nnti krim k nomer 081564691114

The Bluetripper said...

mohon maaf om, kebetulan saya tidak menyimpan nomor kontak basecamp guntur, mungkin bisa tanyakan ke website jelajahgarut.com, ini nomor customer service nya 085722255885, terima kasih

riama dewi suprianti tampuboln said...

kondisi gunung guntur aman gak di bulan Februari ini?
jika membawa minuman dari pos 3 sebnyak 3 botol aqua @1.5 liter apakah cukup?
Mohon informasinya ya.
Terima kasih

Rere

Agung Ristiana said...

menurut info yang saya denger, saat ini cuma diijinkan mendaki sampai pos 3 aja mbak, untuk lebih jelasnya mungkin bisa hubungi langsung pihak pengelola,

kebutuhan air tergantung jumlah personil dan lama waktu perjalanan, bisa coba baca tulisan ini,

http://www.bluetripper.com/2014/12/tips-menentukan-jumlah-air-yang-harus.html

semoga membantu.. salam

ojan said...

Gan, kira2 kalo naek motor sampe basecamp bisa ngga?

Agung Ristiana said...

bisa om,

Anonymous said...

"Vandalisme, kreativitas tidak pada tempatnya" pasti ada pada hampir setiap gunung atau tempat wisata yang pernah kita kunjungi, terutama sampah sedang botol air mineral dan yang kecil2 seperti bungkus permen, itu yang tidak pernah disadari oleh yang namanya para pelancong atau para pecinta alam sekalipun, dan Ritta Rubby Hartland (artis masa lalu) pernah mengkritiknya dengan lagu "Kepada Alam Dan Pencintanya", marilah kita sadari bersama untuk bisa merubahnya, minimal dimulai dari diri kita sendiri.
untuk The Bluetripper : I salute you!!!

Rute Pendaki said...

Terima kasin informasi lengkapnya, barangkali tulisan ini akan menjadi referensi disitus kami.