Pendakian Gunung Merbabu (3142 MDPL)


Pendakian Gunung Merbabu - Mobil bak terbuka yang kami tumpangi meluncur cepat mengikuti alur jalan yang berkelok menyusuri kontur tanah bebukitan. Di kiri-kanan, pohon-pohon tembakau berdaun besar dan lebar tumbuh subur di area perkebunan milik warga sekitar. Angin sepoi-sepoi yang lumayan dingin tak henti menerpa wajah dan tubuh kami di perjalanan menuju pondok pendakian Gunung Merbabu di atas sana.

Hari yang mulai merangkak menuju gelap masih menyisakan sedikit cahaya di langit senja, membuat pemandangan Gunung Merapi yang gagah perkasa masih sedikit terlihat jauh di belakang sana. Setelah tuntas mendaki Merapi, kini Gunung Merbabu siap menyapa di depan sana. Stamina yang banyak terkuras setelah dihajar trek pendakian Merapi harus segera pulih kembali agar esok mampu melewati tantangan jalur pendakian Merbabu yang katanya tak terlalu ekstrem namun punya jarak yang lebih panjang dari jalur Merapi kemarin.

***

Adzan maghrib sudah lewat cukup lama saat mobil yang kami tumpangi tiba di depan pondok pendakian, sebuah rumah sederhana yang disulap menjadi semacam penginapan khusus untuk para pendaki yang butuh tempat untuk bermalam.

Ratusan stiker dari berbagai organisasi dan perkumpulan yang menempel teratur di dinding depan rumah ini menandakan banyaknya petualang yang pernah bermalam atau sekedar berkunjung ke sini. Diantara keroyokan stiker tersebut, terselip peta kontur Gunung Merbabu dan selembar poster berisi tulisan yang menerangkan berbagai peraturan pendakian yang harus ditaati.

Sebuah ruangan kosong beralaskan karpet hijau tipis tersedia untuk rombongan kami yang berisi banyak orang. Tempat sederhana seperti ini ditambah beberapa toilet yang tersedia, sudah terasa cukup mewah untuk kami yang di malam kemarin hanya bisa tidur di dalam tenda yang didirikan diatas permukaan tanah kasar berbatu gunung Merapi.

Malam ini, kami harus istirahat maksimal sebagai upaya recovory agar tubuh dapat kembali fit dan siap diandalkan saat besok mendaki Merbabu. Mumpung ada toilet dan kamar mandi, saya pun memanfaatkan kesempatan ini untuk membuang isi perut dan membersihkan diri setelah 2 hari tak mandi. Air yang super dingin sempat bikin ogah dan malas untuk mandi, namun karena tak tahan dengan bau badan yang sangat asem dan apek, dan juga demi bisa tidur nyenyak, akhirnya saya terpaksa mandi sambil tak henti gemetaran menahan dingin.

Sialnya, niat segera tidur untuk memulihkan tenaga setelah selesai mandi malah terganggu dengan temu kangen bersama teman lama yang baru turun mendaki. Alhasil karena keasyikan ngobrol, saya pun baru bisa tidur menjelang tengah malam.

Kerepotan di trek awal pendakian.

Memulai pendakian di ketinggian 1.836 mdpl. (Gunung Merbabu, Jawa Tengah)
Fisik yang belum pulih maksimal, ditambah waktu tidur yang tak terlalu optimal (gara-gara semalam keasikan ngobrol bersama kawan lama yang baru turun dari Merbabu), membuat saya cukup kerepotan melewati trek awal pendakian. Padahal beberapa tanjakan yang harus dilalui sebenarnya tak terlalu curam, ditambah banyak bonus jalan landai yang menyenangkan.

Sebagian anggota rombongan sudah melaju cepat di barisan depan, sementara saya yang sibuk mengatur nafas dan mengambil break jauh tercecer di belakang. Beruntung trek pendakian awal didominasi hutan lebat yang teduh dan indah, memberikan suasana sejuk yang nyaman untuk dinikmati. Burung-burung liar berbulu cantik beberapa kali terlihat berterbangan diantara pepohonan, sementara beberapa ekor monyet terlihat sedang bersantai di bagian atas pohon sambil asik menonton saya yang engap-engapan mengatur nafas sambil duduk-duduk manja.

Kepayahan saat melakukan pendakian memang menyebalkan, apalagi sampai harus tertinggal dari anggota rombongan lain yang melaju cepat jauh di depan. Namun, hikmanya kita jadi bisa lebih menikmati perjalanan karena punya lebih banyak waktu untuk memperhatikan keindahan alam di sekitar.

Ceceran sampah di beberapa pos cukup mengganggu pemandangan. (Gunung Merbabu, Jawa Tengah)
Perlahan tapi pasti, setelah tubuh mulai panas dan tuntas beradaptasi dengan kondisi baru, speed pendakian pun bisa saya tingkatkan demi mengejar ketertinggalan. Namun sialnya, trek pendakian mulai menampakkan tanjakan-tanjakan terjal yang cukup menyiksa.

Selesai berhasil menaklukkan tanjakan panjang terjal sialan yang barus saja saya lewati, berarti selesai pula medan hutan belantara jalur pendakian Gunung Merbabu via Selo. Setibanya di pos Batu Tulis, vegetasi pepohonan lebat yang bisa dinikmati di kiri kanan jalur sejak dari gerbang pendakian tadi kini hampir 100% hilang, berganti dengan kumpulan semak belukar dan padang rumput nan luas. Tak adanya pohon tinggi membuat pandangan ke segala arah menjadi terbuka lebar, namun kabut pekat masih menjadi penghalang untuk melihat dengan jelas keindahan pemandangan sekitar.

Tantangan tanjakan panjang menuju Sabana satu.

Setelah kabut tebal mulai hilang tertiup angin, pemandangan sebenarnya akhirnya tersingkap, jejeran pendaki yang sedang antri bersusah payah melangkah setapak demi setapak terlihat jelas dalam satu barisan mengikuti jalur berupa tanjakan terjal yang terlihat cukup curam. Dalam kondisi fisik yang lelah, pemandangan seperti ini tentunya sangat tak enak dipandang, panjangnya tanjakan menuju ke atas sana yang terlihat dengan sangat jelas bisa dengan mudah meruntuhkan mental siapa pun.

Setapak demi setapak yang semakin terasa berat. (Gunung Merbabu, Jawa Tengah)
Setelah puas beristirahat dan menikmati pemandangan yang ada, akhirnya tiba giliran kami menjajal panjang dan curamnya tanjakan tersebut. Baru beberapa ratus meter berjalan, lutut saya sudah terasa cukup ngilu, hehe. Berkali-kali saat menemukan tempat yang cukup datar, saya terpaksa harus duduk-duduk mengambil break untuk mengatur napas yang makin tak karuan. Efek samping dari kebiasaan merokok sangat terasa dalam kondisi seperti ini.

Tanjakan panjang (lagi) sebelum sampai di Sabana dua.

Setelah susah payah melewati tanjakan terjal super panjang, keindahan pemandangan sabana satu menjadi sedikit penghibur yang cukup manjur mengusir lelah. Namun pemandangan tanjakan terjal berikutnya yang terlihat jelas agak jauh di depan sana berhasil merusak segalanya, siap-siap lutut ngilu lagi, siap-siap susah payah lagi, yaa beginilah yang namanya mendaki gunung, heuheuheu.

Meninggalkan keindahan sabana satu. (Gunung Merbabu, Jawa Tengah)

Terpesona dengan keindahan Sabana dua.

Kabut tipis pun turun pelan-pelan, di lembah kasih, lembah Mandalawangi Sabana 2. Semuanya sungguh sempurna, suasananya, pemandangannya, udaranya, atmosfer nya, rasanya ingin menetap di tempat ini selama mungkin. Rasa lelah dan tersiksa akibat dua tanjakan panjang yang baru terlewati menguap seketika setibanya di tempat indah ini. Tuhan memang Maha Penyayang umatnya, setelah disiksa tanjakan, kini saya dimanjakan dengan keindahan alam ciptaan-Nya.

Suasana sabana 2 yang bikin super betah. (Gunung Merbabu, Jawa Tengah)
Sabana dua merupakan sebuah kawasan lembah yang dikelilingi bebukitan. Disela-sela bebukitan tersebut, jalur pendakian mengalir membelah hijau rerumputan melewati kawasan datar yang sering digunakan sebagai tempat para pendaki mendirikan tenda. Jalur pendakian berubah agak landai menurun di ujung sabana 2 hingga kembali naik dengan curam saat memasuki jalur menuju puncak Triangulasi dan Kentheng Songo.

Jika anda pernah menginjakkan kaki disini, anda pasti tahu betapa bikin betahnya tempat ini. Padang rumput nan luas menghampar indah di depan mata, angin yang berhembus pelan, meskipun terasa agak dingin, namun terasa nyaman untuk dinikmati. Sesekali sinar matahari yang masuk menembus sela-sela kabut memberikan hangat yang sangat nyaman.

Di belakang tenda, pepohonan edelweiss berbatang tinggi tumbuh subur membentuk setitik hutan rimbun yang teduh. Beberapa orang kawan sedang menikmati teduhnya sambil tiduran di atas hammock yang dipasang disana. Beberapa kawan lain masih sibuk memasang tenda. Sementara yang telah selesai mendirikan tenda dan membereskan barang, sedang mulai bertayamun dengan debu dari rerumputan untuk kemudian menunaikan kewajiban solat di atas hamparan indah padang sabana. Solat disini pastinya bakal membuat kita benar-benar khusyu karena terasa lebih dekat dengan Tuhan.

Tempat berkemah yang sangat sempurna. (Gunung Merbabu, Jawa Tengah)
Sejak selesai membereskan barang dan segala peralatan dalam tenda, saya malah keasikan duduk-duduk di atas rerumputan sambil menikmati pemandangan sekaligus menonton aktivitas orang-orang di sekitar. Betapa beruntung bisa menginjakkan kaki di tempat ini, apalagi kami bakal bermalam disini, saya jadi punya banyak waktu untuk menikmati setiap sudut dan jengkal tempat megah ini.

Malam indah bertabur bintang tak bisa lama-lama saya nikmati karena angin super dingin yang tak henti berhembus. Setelah tuntas melakukan berbagai aktivitas, tidur bergumul dalam balutan sleeping bag jadi pilihan paling bijak. Esok pagi, perjalanan panjang ini akan menemui puncaknya, semoga berakhir klimaks dan bisa mendapatkan travelgasm.

Sisa-sisa tenaga di jalur menuju puncak.

Saat sedang melakukan persiapan di pagi buta, sekelompok pendaki tiba-tiba menyapa kami. Salah satu anggota perempuan dari grup mereka tak kuat melanjutkan perjalanan karena kelelahan dan kedinginan. Karena kasihan dan takut malah terserang hipotermia, kami pun menawarkan bantuan dengan menyuruh si perempuan untuk masuk ke tenda, berlindung dari angin gunung super dingin di dini hari yang sepi ini. Sebagian anggota grup mereka kemudian lanjut berjalanan menuju puncak, dan seorang menunggui si perempuan di tenda kami.

Setelah tuntas menolong, dan selesai melakukan persiapan, saya dan beberapa kawan pun akhirnya berangkat menuju puncak meski hari masih gelap, berharap bisa menikmati sunrise dari atas tanah tertinggi Merbabu.

Gambar jelek dari potograper amatiran. (Gunung Merbabu, Jawa Tengah)
Sempat mengira akan bisa sampai di puncak dengan cepat, lagi-lagi saya malah keteteran tercecer di belakang, beginilah nasib pendaki yang jarang olahraga, kepayahan terus, heuheuheu. Alhasil, baru setengah perjalanan, matahari sudah keburu muncul ke permukaan. Demi menikmati dan mensyukuri keindahan sunrise, perjalanan saya hentikan. Menikmati sunrise di gunung memang selalu menakjubkan.

Setelah puas menikmati indahnya sunrise, perjalanan pun saya lanjutkan. Puncak sudah terlihat sangat dekat di atas sana, namun kaki makin terasa berat untuk dilangkahkan. Fisik yang sudah digeber sejak 3 hari belakangan menampakkan tanda batasnya. Saya hampir tak mampu berjalan lama, sedikit-sedikit tubuh ini minta break.

Napas makin tak karuan, kaki makin berat, kepala nyut-nyutan, beginilah akibat dari pola hidup tak sehat yang selama ini saya terapkan. Olahraga sangat jarang, bahkan hampir tak pernah, kebiasaan merokok makin parah, ya wajar lah sekarang saya kepayahan. Disini saya mengutuki kebiasaan hidup tak sehat tersebut.

Pemandangan Gunung Merapi dari puncak Triangulasi. (Gunung Merbabu, Jawa Tengah)
Setelah susah payah, akhirnya puncak triangulasi bisa dicapai juga, Alhamdulillah. Puncak Triangulasi yang tak terlalu luas sudah di penuhi banyak pendaki yang sedang melakukan berbagai aktivitas, kebanyakan sedang berfoto, hehe. Tumpukan batu-batu kecil yang disusun sedemikian rupa dan juga papan keterangan menjadi objek paling diminati untuk jadi foto bukti perjalanan. Pemandangan indah ke berbagai arah juga tak luput dari bidikan banyak mata kamera. Pemandangan puncak Merapi yang terlihat jelas dan gagah menjadi latar favorit.

Lalu saya ngapain? Setelah mengambil beberapa gambar, saya cuma duduk-duduk menikmati sebatang rokok sambil memperhatikan keadaan sekitar. Menonton dan mengamati aktivitas yang dilakukan orang-orang nampaknya telah menjadi hobi baru saya. Paling senang saat melihat para pendaki membuat tulisan di kertas dengan kalimat-kalimat yang lucu, heuheu.

Menikmati pemandangan lautan awan ikal dari puncak Kentheng Songo. (Gunung Merbabu, Jawa Tengah)
Puas menikmati suasana puncak Triangulasi, beberapa kawan mengajak saya menuju puncak Kentheng Songo yang berada tak jauh dari sana. Cukup melewati jalur menurun, mendatar, kemudian sedikit naik yang jaraknya mungkin tak lebih dari 500 meter, kami tiba di Kentheng Songo. Tak ada yang spesial, puncak ini sama saja dengan puncak yang tadi.

Tak ada Travelgasm di Merapi dan Merbabu.

Bukannya tak bersyukur atau tak tahu terima kasih pada alam, tapi terus terang di pendakian panjang kali ini saya tak menemukan sensasi perjalanan yang saya cari. Dua gunung yang telah didaki di perjalanan kali ini, yakni Merapi dan terutama Merbabu ternyata tak sesuai dengan ekspektasi yang selama ini tertanam dalam kepala saya, hasil serangan input-input data baik dari foto instagram, cerita perjalanan di internet, dan juga cerita teman-teman saya. Merbabu memang indah, namun tak seindah yang terbayang dalam angan. Beruntung Merbabu punya Sabana dua yang super indah, jika tak ada sabana dua, mungkin saya akan kecewa berat setelah mendaki gunung ini, karena tak mendapat sesuatu yang spesial.

Dari sini saya (lagi-lagi) belajar untuk meredam ekspektasi berlebih saat mendaki gunung. Gara-gara ekspektasi tinggi, saya akhirnya malah tak mendapat banyak hal dan pembelajaran dari perjalanan panjang ini. Alih-alih menjadi pengalaman berharga dengan momen-momen tak terlupa, pendakian kali ini sepertinya hanya jadi perjalanan biasa yang cuma melengkapi cerita hidup saya. Semuanya gara-gara si ekspektasi, saya jadi tak mendapatkan travelgasm yang sudah lama tak saya rasakan, heuheuheu.

***

Itinerary Perjalanan

1. Berangkat dari Pasar Selo menuju Basecamp Pendakian Merbabu.

Dari pasar selo, untuk menuju basecamp pendakian Merbabu yang jaraknya cukup jauh, ada beberapa moda transportasi yang bisa dipilih. Jika berangkat dalam jumlah grup besar, mobil bak terbuka bisa jadi pilihan bagus, jika perorangan, ojek bisa jadi pilihan. Ongkos yang diperlukan hampir sama, sekitar 15-25 ribu rupiah per-orang nya, jika pintar bernegosiasi mungkin bisa lebih murah.

Sebelum memasuki perkampungan dengan banyak pondok pendakian yang bisa dijadikan tempat bermalam, registrasi bisa dilakukan di pos jaga dengan mengisi data diri dan membayar tiket pendakian yang cukup murah seharga Rp.15.000,- (harga tahun 2016).

2. Mulai Pendakian di ketinggian hampir 2000 MDPL.

Bersiap di gerbang pendakian. (Gunung Merbabu, Jawa Tengah)
Gerbang pendakian Gunung Merbabu via Selo bisa dicapai tak jauh dari perkampungan atau pondok pendaki. Di pendakian kali ini, kami mulai mendaki pukul 07.30 pagi. Perlu diingat jika di sepanjang Jalur Pendakian Merbabu via Selo tak bakal ditemukan sumber air, maka dari itu bersiaplah dengan membawa perbekalan air secukupnya untuk kebutuhan minum dan memasak.

3. Pendakian melewati medan hutan belantara melewati Pos 1 dan 2, hingga tiba di Pos 3 Batu Tulis.

Dok Malang di ketinggian 2189 mdpl. (Gunung Merbabu, Jawa Tengah)
Trek awal pendakian hingga pos 1 cukup nyaman untuk dilalui dengan beberapa tanjakan yang tak terlalu curam diselingi banyak bonus tanah datar dan bahkan menurun. Karena speed pendakian yang sangat santai, saya butuh waktu 1,5 jam untuk sampai di Pos 1 (Dok Malang) pada pukul 09.00, jika berjalan lebih dengan speed yang lebih cepat, waktu tempuh pastinya bisa lebih singkat.

Pos Batu Tulis yang luas bisa jadi tempat berkemah yang nyaman. (Gunung Merbabu, Jawa Tengah)
Trek menuju pos 2 (Pandean) mulai dihiasi banyak tanjakan, saya butuh waktu waktu 1,5 jam lagi untuk bisa tiba di sana. Dan kemudian perjalanan berlanjut dengan beberapa tanjakan lumayan terjal (terutama tanjakan terakhir) sebelum sampai di Pos 3 (Batu Tulis). Sampai di batu tulis kurang lebih pukul 11.30, berarti perjalanan menuju pos 3 saja sudah memakan waktu sampai 4 jam. Pos Batu Tulis punya area tanah datar yang cukup luas, jika anda kelelahan dan tak mampu melanjutkan perjalanan, berkemah di pos ini bisa jadi pilihan bagus.

4. Melewati tanjakan terjal menuju Sabana satu dan Sabana dua.

Sabana 1 yang indah namun kotor dengan ceceran sampah. (Gunung Merbabu, Jawa Tengah)
Tanjakan menuju Sabana Satu cukup terjal dan panjang, saya sempat cukup kepayahan di sini, hehe. Dari pos Batu Tulis menuju Sabana 1, saya butuh waktu satu seperempat jam, dan sampai kurang lebih pada pukul 12.45 siang. Setelah istirahat sejenak, perjalanan dilanjutkan melewati tanjakan terjal (lagi) menuju Sabana 2 dengan waktu kurang lebih satu jam perjalanan, hingga sampai pada pukul 13.40 siang.

Jika ditotal, dari gerbang pendakian hingga sampai di Sabana 2 saya menghabiskan waktu kurang lebih 6 jam perjalanan, dengan catatan speed pendakian yang super santai dilengkapi banyak break, hehe. Jika mendaki dengan speed cepat, seperti yang dilakukan teman saya, anda mungkin hanya butuh waktu 3-4 jam saja untuk bisa sampai di Sabana 2.

5. Summit Attack.

Pemdangan trek pendakian dari puncak. (Gunung Merbabu, Jawa Tengah)
Dari Sabana 2 menuju puncak jaraknya cukup dekat, menurut info dari beberapa kawan untuk sampai di puncak kita hanya perlu waktu sekitar 20-30 menit saja. Namun karena berbagai alasan (terutama fisik yang payah, hehe), saya butuh waktu satu jam lamanya cuma untuk bisa sampai di puncak. Berangkat pukul 05.30 pagi, saya baru sampai puncak pukul setengah tujuh, sehingga harus merelakan untuk menikmati sunrise di tengah jalan sebelum puncak, tepatnya di sekitar pos Watu Lumpang.

6. Turun Gunung kembali ke Basecamp Pendakian.

Perjalanan turun gunung relatif cepat, dengan berjalan setengah berlari, dalam waktu 2-3 jam saja kita sudah bisa kembali ke basecamp pendakian untuk bersiap kembali pulang.

***

Info Lain Gunung Merbabu

Seperti banyak gunung di Jawa Tengah lainnya, Merbabu punya cukup banyak jalur, beberapa diantaranya yang saya tahu adalah Selo, Wekas, Kopeng dan Suwanting. Bagi anda yang masih pemula atau baru pertama mendaki Gunung Merbabu, jalur Selo merupakan jalur paling recommended, karena treknya jelas, banyak petunjuk, dan kondisi medan yang cukup bersahabat.

Menurut info dari seorang kawan, di Gunung ini bisa ditemukan bunga yang super langka, yakni edelweiss jumbo berwarna ungu, namun konon tak sembarang orang bisa menemukan bunga ini. Entah fakta atau mitos, yang jelas katanya teman saya pernah sekali menemukan bunga ini.

Jika kebetulan mendaki di saat musim kemarau panjang, harap berhati-hati karena gunung Merbabu terkenal cukup sering terkena kebakaran yang cukup parah, seperti beberapa tahun lalu.

***

Segitu saja tulisan tentang pendakian Gunung Merbabu yang bisa saya buat, mohon maaf jika kepanjangan, semoga cerita dan data dalam tulisan ini dapat bermanfaat untuk anda semua. Jangan lupa untuk tidak meninggalkan apapun selain jejak, tetap mengutamakan keselamatan saat melakukan pendakian, dan selalu gunakan peralatan mendaki standar. Salam Lestari!

Comments

alan nobita said…
kadang yg paling malas dari naik gunung itu turunnya hahaha.. masih betah di atas hihi
pengeeeeen banget sebenrnya naik gunung begini.. apalagi kalo disuruh milihpun, aku lbh seneng wisata ke daerah pegunungan drpd pantai yg panas.. tp belum pernah nih ngerasain naik gunung beneran... dulu pernah naik puncak sikunir aja aku berasa mau pingsan mbak hahahaha ;p.. ketahuan bgt fisik ga pernah dilatih -__-
Terbayar lunas ya keletihan selama perjalanan sesampainya di puncak merbabu.. mantap
evrinasp said…
saya kapok ke gunung ini karena treknya masyaAllah dasyat, tapi luar biasa lautan awannya memukau ketika sudah sampai di atas, terbayarkan sudah perjuangan sampai ke puncak
adindut.com said…
Aduhhhh....saya selalu iri jika melihat orang naik gunung. Kayaknya kok nikmat banget T_T
dolan yok said…
Apa yang membuat orang meninmati mendaki gunung gan, padahal kan waktu ngedaki dan turun itu sangat capek sekali, dan hanya beberapa jam saja di puncak. Tolong jelaskan