4 Tingkatan Status Gunung Berapi di Indonesia yang Perlu Anda Tahu

Gunung berapi aktif yang mengeluarkan abu vulkanik (gambar diambil dari sini)
Status Gunung Berapi di Indonesia - Mendaki gunung memang merupakan kegiatan rekreasi sekaligus olahraga luar ruangan yang sangat menyenangkan untuk dilakukan. Namun, disamping kesenangan dan banyak manfaat lain yang bisa didapatkan, mendaki gunung juga punya banyak resiko bahaya yang bisa mengancam keselamatan pendaki, salah satunya adalah peningkatan status gunung secara tiba-tiba atau bahkan hingga terjadi erupsi yang tak diduga.

Kasus seperti ini tentunya sangat bisa dihindari manakala kita mengetahui keadaan terkini gunung yang akan didaki, dan memahami tahapan status gunung berapi yang berlaku di Indonesia. Di beberapa blog pendaki, saya pernah membaca kejadian yang cukup berbahaya, ketika gunung yang mereka tuju ternyata sedang menunjukkan peningkatan aktivitas dan bahkan hingga ada yang sampai terjadi erupsi saat tengah melakukan pendakian, hingga mereka harus dievakuasi oleh petugas pengelola yang bertanggu jawab di gunung tersebut. Beruntung kejadian tersebut tidak sampai merenggut korban jiwa.

Menurut tulisan yang sama, hal tersebut terjadi karena kecerobohan yang dilakukan oleh penulis yang tak mengecek atau memantau kondisi terkini gunung tersebut sebelum pergi mendaki. Dan menurut saya, pihak pengelola pun melakukan kesalahan dengan mengijinkan para pendaki untuk tetap mendaki.

Namun terlepas dari apapun sebabnya, di tengah alam liar manusia adalah mahluk yang lemah tak berdaya. Sekalipun manusia tidak melakukan kesalahan, kondisi alam yang tak pernah bisa ditebak bisa jadi marabahaya yang tiba-tiba mengancam keselamatan tanpa bisa dicegah.

Sinabung erupsi lagi (gambar diambil dari sini)

Tingkatan Status Aktivitas Gunung Berapi yang dipakai di Indonesia

Sebagai pendaki gunung yang biasa bertualang di gunung-gunung tinggi yang tak jarang merupakan gunung berapi aktif, sebaiknya kita membekali diri dengan berbagai pengetahuan tentang gunung berapi, salah satunya dengan memahami tingkatan status gunung berapi yang berlaku di Indonesia. Mempelajari hal ini tentunya akan sangat berguna terutama dalam tahap perencanaan perjalanan perjalanan pendakian.

Berikut ini saya cantumkan penjelasan singkat tentang 4 tingkatan status gunung berapi dari mulai status normal yang berarti sangat aman untuk didaki, hingga status awas yang biasanya mengharuskan kegiatan pendakian di gunung tersebut ditutup total bagi siapapun.

1. Normal

Kegiatan gunung api dalam keadaan normal dan tidak memperlihatkan adanya peningkatan kegiatan berdasarkan hasil pengamatan secara visual, maupun hasil penelitian secara instrumental. Gunung berapi dengan status normal merupakan tempat yang paling aman untuk melakukan pendakian.

Makna:

- Tidak ada gejala aktivitas tekanan magma
- Level aktivitas dasar

Tindakan:

- Pengamatan rutin
- Survei dan penyelidikan

2. Waspada

Terjadi peningkatan kegiatan berupa kelainan yang teramati secara visual dan atau secara instrumental. Seperti gempa tremor biasa yang mulai berubah menjadi gempa vulkanik. Mendaki gunung dengan status waspada masih cukup aman dilakukan, namun tentunya anda juga harus tetap waspada dengan peningkatan status gunung yang bisa terjadi secara tiba-tiba.

Makna:

- Ada aktivitas apa pun bentuknya
- Terdapat kenaikan aktivitas di atas level normal
- Peningkatan aktivitas seismik dan kejadian vulkanis lainnya
- Sedikit perubahan aktivitas yang diakibatkan oleh aktivitas magma, tektonik dan hidrotermal

Tindakan:

- Penyuluhan/sosialisasi
- Penilaian bahaya
- Pengecekan sarana
- Pelaksanaan piket terbatas

3. Siaga

Peningkatan kegiatan semakin nyata, yang teramati secara visual dan atau secara instrumental serta berdasarkan analisis perubahan kegiatan tersebut cenderung diikuti letusan/erupsi.

Untuk gunung dengan status siaga biasanya masih diperbolehkan untuk kegiatan wisata atau pendakian, dengan catatan para pendaki dan wisatawan diharapkan dapat bersikap siaga untuk terjadinya peningkatan status maupun erupsi. Meski masih diperbolehkan melakukan pendakian, menurut saya lebih baik untuk tidak memaksa mendaki, karena resiko bahanya yang bisa terjadi cukup tinggi.

Makna:

- Menandakan gunung berapi yang sedang bergerak ke arah letusan atau menimbulkan bencana
- Peningkatan intensif kegiatan seismik
- Semua data menunjukkan aktivitas dapat segera berlanjut ke letusan atau menuju pada keadaan yang dapat menimbulkan bencana
- Jika tren peningkatan berlanjut, letusan dapat terjadi dalam waktu 2 minggu

Tindakan:

- Sosialisasi di wilayah terancam
- Penyiapan sarana darurat
- Koordinasi harian
- Piket penuh

4. Awas

Peningkatan kegiatan gunungapi mendekati/menjelang letusan utama yang diawali oleh letusan abu/asap. Berdasarkan analisis data pengamatan, segera akan diikuti letusan utama, sehingga gunung dalam status awas dipastikan akan tertutup untuk kegiatan pendakian dan wisata. Mendekati kawasan gunung berapi dengan status awas dengan radius tertentu saja sudah sangat dilarang karena sangat membahayakan, apalagi mendaki, kecuali jika anda memang ingin bunuh diri, hehe. 

Makna:

- Menandakan gunung berapi yang segera atau sedang meletus atau ada keadaan kritis yang menimbulkan bencana
- Letusan pembukaan dimulai dengan abu dan asap
- Letusan berpeluang terjadi dalam waktu 24 jam

Tindakan:

- Wilayah yang terancam bahaya direkomendasikan untuk dikosongkan
- Koordinasi dilakukan secara harian
- Piket penuh


Informasi Tambahan  : Tipologi Gunung Api

Berdasarkan informasi geologi dan tingkat risiko letusan gunung berapi, tipologi kawasan rawan letusan gunung berapi dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) tipe sebagai berikut:

Tipe A

1) Kawasan yang berpotensi terlanda banjir lahar dan tidak menutup kemungkinan dapat terkena perluasan awan panas dan aliran lava. Selama letusan membesar, kawasan ini berpotensi tertimpa material jatuhan berupa hujan abu lebat dan lontaran batu pijar.

2) Kawasan yang memiliki tingkat risiko rendah (berjarak cukup jauh dari sumber letusan, melanda kawasan sepanjang aliran sungai yang dilaluinya, pada saat terjadi bencana letusan, masih memungkinkan manusia untuk menyelamatkan diri, sehingga risiko terlanda bencana masih dapat dihindari).

Tipe B

1) Kawasan yang berpotensi terlanda awan panas, aliran lahar dan lava, lontaran atau guguran batu pijar, hujan abu lebat, hujan lumpur (panas), aliran panas dan gas beracun.

2) Kawasan yang memiliki tingkat risiko sedang (berjarak cukup dekat dengan sumber letusan, risiko manusia untuk menyelamatkan diri pada saat letusan cukup sulit, kemungkinan untuk terlanda bencana sangat besar)

Tipe C

1) Kawasan yang sering terlanda awan panas, aliran lahar dan lava, lontaran atau guguran batu (pijar), hujan abu lebat, hujan lumpur (panas), aliran panas dan gas beracun. Hanya diperuntukkan bagi kawasan rawan letusan gunung berapi yang sangat giat atau sering meletus.

2) Kawasan yang memilki risiko tinggi (sangat dekat dengan sumber letusan. Pada saat terjadi aktivitas magmatis, kawasan ini akan dengan cepat terlanda bencana, makhluk hidup yang ada disekitarnya tidak mungkin untuk menyelamatkan diri).

***

Sebelum melakukan pendakian gunung, ada baiknya anda memantau dulu perkembangan status terkini gunung yang akan dituju melalui berita di media, atau bila perlu dengan menghubungi langsung pihak pengelola gunung tersebut. Sekian informasi tentang tingkatan status gunung berapi yang bisa saya bagikan kepada anda semua, semoga bermanfaat. 

Sumber referensi tulisan:

Comments

Popular Posts