Cari Peralatan Gunung Murah di Sini!

25 Oct 2016

Pendakian Gunung Merapi (2930 mdpl)


Pendakian Gunung Merapi - Sama seperti Gunung Semeru, mendaki Gunung Merapi tak pernah masuk kedalam daftar mimpi petualangan saya. Merapi yang terkenal sebagai gunung paling aktif di pulau Jawa terus terang tak pernah menarik minat saya untuk datang berkunjung. Meski banyak kawan yang bilang mendaki Merapi itu menyenangkan karena punya segudang tantangan, dan di media social pun banyak beredar foto-foto keren yang diunggah para pendaki gunung ini, saya tetap tak tertarik untuk mendaki kesana.

Namun beberapa waktu lalu, akibat ajakan mendaki 2 gunung berinisial M yang ada di Jawa Tengah, saya pun akhirnya datang juga dan mencicipi pendakian di Gunung-nya almarhum Mbah Maridjan ini.

Trek pendakian Gunung Merapi didominasi tanjakan terjal berbatu yang panjang

trek awal pendakian menuju gerbang masuk TNGM
Berdasarkan info dari kawan-kawan yang pernah mendaki ke Merapi, bagian terseru sekaligus tersulit dari pendakian Gunung Merapi adalah trek dari Pasar Bubrah menuju puncak yang didominasi medan pasir berbatu dengan kemiringan tanjakan yang aduhai. Namun nyatanya, setelah merasakan sendiri, trek pendakian Merapi sudah cukup menyiksa sejak dari Gerbang Masuk Taman Nasional.

Di sebuah persimpangan di pertengahan jalur menuju Pos 1, saya bersama beberapa kawan memilih jalur arah kanan yang ternyata bermedankan tanjakan curam yang sangat panjang. Disiksa tanjakan seperti itu, otomatis tubuh saya yang memang tak punya stamina prima benar-benar dibuat kepayahan. Kondisi alamnya yang didominasi hutan belantara yang cukup rapat tak memberikan view pemandangan indah untuk dinikmati sebagai pengobat rasa lelah saat sekedar beristirahat untuk memulihkan tenaga.

Menjelang tiba di Pos 1, barulah ada sedikit area terbuka yang memunculkan pemandangan indah puncak merapi di atas sana. Namun sialnya, pemandangan terbuka tersebut juga memunculkan gambaran trek terjal menuju pos 2 yang nantinya harus kami hadapi.

Sampai di Pos 1, kami tak punya banyak waktu untuk istirahat berlama-lama, karena waktu tak terasa sudah merangkak menuju sore. Dengan badan yang masih kelelahan usai dihajar tanjakan tadi, kami pun lanjut berjalan menuju pos 2 di atas sana, dimana kami berencana mendirikan tenda untuk bermalam.

Seperti yang saya prediksi sebelumnya, bukannya memberi bonus, trek menuju pos 2 malah menjurus makin menanjak terjal dengan karakteristik medan berbatu. Siksaan tanjakan terjal ini membuat ritme berjalan rombongan kami semakin melambat, hingga kemalaman sebelum sampai di area berkemah.
Merapi ternyata bukan hanya tentang summit attack yang katanya menyulitkan, namun sejak awal pun pendakian Gunung ini benar-benar sangat menguras fisik dan meneror mental.

Stop!!

papan peringatan batas pendakian gunung Merapi
Sebuah plang berwarna kuning terang tertancap kokoh di atas tanah berbatu di area Pasar Bubrah. Tulisannya berbunyi “Stop” ditulis dengan ukuran besar disertai dua tanda seru yang mengancam, dilanjutkan kalimat : “Berhenti di Sini, Batas Aman Pendakian”. Isu tentang pendakian Merapi yang dianjurkan hanya sampai Pasar Bubrah itu ternyata benar adanya. Pihak pengelola nampaknya tak mau ambil resiko kembali menambah korban tumbang di gunung ini.

“Gimana bro? lanjut muncak ngga nih?” Beberapa kawan mulai ragu untuk muncak setelah membaca tulisan di plang tersebut. Kami pun mulai terlibat diskusi kecil-kecilan untuk mengambil keputusan. Bagi saya, puncak adalah bonus dari perjalanan, dan juga menginjakkan kaki di puncak Merapi tak pernah jadi ambisi untuk diwujudkan.

Namun dari Pasar Bubrah, puncak merapi letaknya sudah tak jauh lagi bro, sesekali saat kabut mulai menipis tertiup angin, tanah tertinggi itu menampakkan kemegahannya seolah melambaikan tangan mengundang saya untuk datang kesana. Karena tiba-tiba rasa penasaran datang menyerang, apalagi saat ini kami sudah terlanjur berada disini, dan lagi pendaki lain juga banyak yang sedang naik ke puncak. Setelah menimbang-nimbang factor-faktor tersebut, akhirnya kami ambil resiko untuk lanjut mendaki menuju puncak.

Salah memilih jalur menuju puncak

trek terjal berbatu yang sangat berbahaya
Entah karena saat itu keadaan masih cukup gelap, atau mungkin juga factor kualat karena melanggar batas, rombongan saya dan beberapa pendaki lain harus terjebak di jalur yang salah. Alih-alih lewat jalur kiri dengan trek berpasir yang biasanya dilewati banyak pendaki, kami malah lewat jalur kanan yang punya medan pasir kerikil dengan banyak batu besar yang rawan lepas menggelinding ke bawah.

Belum sampai setengah perjalanan, kaki saya sudah gemetaran bingung mencari pijakan yang aman dan tak membahayakan orang-orang yang mengekor di belakang. Belum lagi konsentrasi harus terus dijaga demi bersiap-siap jika sewaktu-waktu ada batu besar yang datang dari atas. Dalam hati berkali-kali saya mengumpat kesal, sambil terus berdoa karena takut terjadi satu hal yang tak diinginkan.

Setapak demi setapak, dengan langkah sangat berhati-hati, akhirnya saya berhasil juga melewati jalur mengerikan ini hingga sampai di daerah bebatuan yang nampak sangat kokoh untuk dijadikan pijakan. Itupun dengan pengorbanan harus meninggalkan beberapa kawan seperjalanan di bawah. Dari atas sini saya bisa melihat 3 orang kawan yang masih kesulitan naik jauh di bawah sana. Agak egois memang, namun terus terang saya bingung, jangankan menolong kawan yang lain, berusaha untuk menolong diri sendiri saja sudah sangat menyulitkan.

Di sisi lain di jalur yang benar, serombongan bule malah asik meluncur turun di tanah berpasir. Mereka terlihat benar-benar menikmati seluncuran di atas trek pasir layaknya atlit ski di gunung bersalju seperti yang sering saya lihat di film-film. 2 jalur yang posisinya yang tak terlalu jauh ini benar-benar memunculkan situasi yang sangat kontras.

Menengok kawah dari gunung paling aktif di pulau Jawa

kerumunan pendaki di bibir kawah gunung Merapi
Setelah bersusah payah memacu adrenalin di jalur berbahaya, akhirnya saya tiba juga di bibir kawah Gunung Merapi yang katanya terkenal hingga ke mancanegara. Beberapa waktu lalu, tempat ini sempat menjadi hits dan mendominasi headline pemberitaan Nasional akibat kejadian tewasnya seorang pendaki yang terjatuh ke dasar kawah cuma gara-gara foto selpi di puncak tusuk gigi.

Karena masih sangat pagi, saat itu kawah merapi sedang berselubung kabut tebal bercampur asap belerang, membatasi jarak pandang saat sejenak melongok untuk melihat dasar kawah. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya kabut perlahan mulai menghilang dan memunculkan pemandangan mengerikan dasar kawah yang sangat dalam dengan hembusan asap belerang yang keluar tanpa henti. Tepian kawah didominasi tebing bebatuan kasar yang nampak sangat labil, yang sepertinya sangat rawan longsor. Di bagian tertinggi, sebongkah batu runcing yang disebut puncak tusuk gigi atau banyak yang menyebutnya puncak garuda berdiri dengan gagah.

Tak banyak yang saya lakukan di puncak ini, cuma menyalami teman-teman sesaat setelah tiba, berkeliling sejenak untuk mengambil beberapa gambar, dan selanjutnya menikmati sebatang rokok sambil menonton kelakuan orang-orang di sekitar sembari menunggu teman lain yang belum kunjung tiba.

Sibuk membuat tulisan pesan di kertas untuk kemudian diabadikan dengan kamera masih menjadi kegiatan favorit banyak pendaki di atas sini. Sementara yang sebagian lainnya antri berebut plang bertuliskan puncak gunung merapi sekian mdpl untuk dipakai aksesoris berfoto. Melihat mereka sibuk seperti itu, daripada bengong sendiri, saya pun jadi tergerak juga untuk ikut-ikutan membuat tulisan, hehe.

***

Itinerary Perjalanan Pendakian Gunung Merapi

1.Sampai di Pasar Selo dan Polsek Selo

base camp pendakian Gunung Merapi
Untuk melakukan pendakian, anda perlu melapor terlebih dahulu ke pihak Polsek Selo yang lokasinya berada di sekitar kawasan pasar Selo. Di pasar ini anda juga bisa membeli beberapa perbekalan yang dibutuhkan untuk pendakian. Basecamp Barameru sebagai tempat pendaftaran terletak tak jauh dari Pasar Selo di pinggir jalan menanjak menuju kawasan New Selo.

2. Mulai pendakian di New Selo

titik awal pendakian
Karena keterlambatan mobil yang kami tumpangi dari Tasikmalaya, pendakian Gunung Merapi yang direncanakan akan dimulai pagi harus dipending hingga siang hari. Setelah sampai di lokasi sekitar tengah hari, kami pun memulai pendakian pada pukul 12.50. Karena tak bakal ditemukan sumber air dari awal hingga sampai puncak, bersiaplah untuk mengisi perbekalan air secukupnya sejak dari sini.

3. Sampai di Gerbang Masuk Taman Nasional Gunung Merapi (2072 mdpl)

gerbang masuk trek pendakian
Trek awal pendakian dari New Selo menuju Gerbang Masuk TNGM melewati perkebunan penduduk dengan medan tanjakan yang lumayan menguras tenaga. Di awal para pendaki akan berjalan di sebuah jalan kecil dari tembokan, hingga kemudian lanjut dengan trek tanjakan bertanah keras. Karena ritme berjalan yang lumayan santai, kami baru tiba di pos gerbang masuk TNGM sekitar pukul 14.50. Jadi dari New Selo menuju pos Gerbang Masuk kurang lebih memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan.

4. Sampai di Pos 1 Watu Belah (2302 mdpl)

pos satu sebagai tempat istirahat yang nyaman
Selanjutnya, barulah trek pendakian yang sebenarnya bakal mulai bisa kita nikmati. Dari pos Gerbang Masuk TNGM menuju ke Watu Belah (Pos 1), trek pendakian mulai menanjak terjal, dengan medan berupa tanah keras.

Di pertengahan jalan, akan ditemui sebuah persimpangan yang membagi jalur menjadi 2 pilihan. Jika melalui jalur kanan (seperti yang saya pilih), jalur yang harus dihadapi relatif tak terlalu panjang, namun tanjakan yang menghadang bakal lebih curam dan lumayan menyiksa. Sedangkan jika melalui jalur kiri, medannya tetap menanjak terjal, namun banyak bonus tanah datar dengan jalur yang lebih panjang dan memutar.

Saya berhasil sampai di pos 1 pada pukul 16.20, jadi dari Gerbang Masuk menuju Pos 1 kurang lebih memakan waktu 1,5 jam.

5. Sampai di Pos 2 (2534 mdpl)

Menurut saya perjalanan dari Pos 1 menuju Pos 2 merupakan yang terberat, karena medan yang harus dilalui adalah tanjakan terjal nan panjang tanpa bonus dengan medan bebatuan. Sempat beristirahat cukup lama karena kemalaman, kami tiba di Pos 2 sekitar pukul 18.15. Dengan begitu, perjalanan dari Pos 1 menuju Pos 2 memakan waktu hampir 2 jam.

6. Berkemah di antara Pos 2 dan Pasar Bubrah

Karena banyak pertimbangan, salah satunya demi menghindari terpaan langsung angin gunung, rombongan kami memilih lahan yang lumayan luas dan terlindung pepohonan tak jauh dari Pos 2 sebagai tempat bermalam. Menurut saya, dibandingkan dengan Pasar Bubrah, lokasi ini cukup strategis, aman dan nyaman untuk dijadikan tempat berkemah. 

7. Berangkat menuju Pasar Bubrah

Karena cuaca yang sangat berkabut, kami memutuskan tidak terlalu nyubuh untuk berangkat menuju puncak, karena toh sudah hampir pasti tak bakal dapat sunrise indah. Dari tempat berkemah, akhirnya kami berangkat sekitar pukul 5 pagi dengan ritme jalan santai seperti biasa, dan tiba di Pasar Bubrah pukul 05.20. Jika berjalan dengan ritme yang lebih cepat, sebenarnya Pasar Bubrah bisa dicapai dengan waktu yang relatif lebih singkat, karena posisinya memang tak terlalu jauh dari tempat berkemah kami.
lautan awan di sekitar pasar bubrah sesaat setelah turun dari puncak

8. Summit Attack

foto bersama di puncak Merapi
Dan akhirnya, bagian akhir dari pendakian menuju puncak merapi pun dimulai. Saya mulai naik dari Pasar Bubrah pada pukul 05.40 dan baru sampai di puncak pada pukul 07.45, butuh waktu 2 jam perjalanan bro! Mengapa begitu lama? Seperti yang sudah saya ceritakan di atas, kami memilih jalur yang salah dan terpaksa harus bergelut dengan banyak rintangan berbahaya.

9. Turun dari Puncak Menuju lokasi Berkemah

turun gunung menuju pasar bubrah
Setelah puas berfoto, kami akhirnya kembali turun menuju ke Pasar Bubrah sekitar pukul 08.35 dan sampai disana dengan sangat cepat, kurang lebih hanya memakan waktu 10-15 menit perjalanan. Turun dari puncak merupakan bagian paling menyenangkan dari perjalanan, karena disini kita bisa seluncuran menyusuri trek menurun berpasir halus. Setelah puas beristirahat dan berburu foto di Pasar Bubrah barulah kami kembali turun ke perkemahan dan sampai disana pada pukul 09.30.

10. Turun Gunung kembali ke New Selo

Dari tempat berkemah kami mulai berangkat turun gunung pada pukul 13.30, dan baru sampai di New Selo pada pukul 5 sore. Lagi-lagi mengapa begitu lama hingga memakan waktu 3,5 jam perjalanan? Karena saya turun dengan ritme super santai.

11. Total Waktu Perjalanan

Jika ditotal waktu perjalanan pendakian Gunung Merapi yang saya lakukan kurang lebih memakan waktu 7,5 jam untuk naik hingga menuju puncak, dan 4 jam untuk turun gunung. Sebagai catatan, estimasi waktu tersebut merupakan waktu berjalan ditambah waktu break yang kami ambil di sela-sela perjalanan. Pendakian ini juga dilakukan dengan ritme berjalan yang sangat santai.

Jika anda melakukan pendakian Gunung Merapi dengan ritme berjalan standar atau bahkan cepat, dengan tidak terlalu banyak mengambil waktu break untuk beristirahat, waktu perjalanannya mungkin bisa dipangkas menjadi lebih singkat dari yang saya alami.

Info lain Gunung Merapi

peraturan yang tak boleh dilanggar di Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi
Jalur Selo merupakan satu-satunya jalur pendakian resmi Gunung Merapi. Lokasinya tak terlalu jauh dari Basecamp Jalur Selo Pendakian Gunung Merbabu, sehingga akan sangat efisien dan menghemat biaya jika anda mendaki kedua Gunung ini dalam sekali perjalanan. Gunung Merapi dan Gunung Merbabu merupakan 2 dari banyak gunung di Jawa Tengah yang sangat layak untuk anda daki.

Menurut kawan saya, harga tiket pendakian Gunung Merapi sering berubah-ubah. Di pendakian kemarin, kami hanya harus membayar Rp 5.000,- saja untuk setiap orang. Sedangkan di pendakian sebelumnya, kawan saya malah harus membayar Rp 15.000,- per orang.

Di sepanjang jalur pendakian Gunung Merapi tak bakal ditemukan sumber air, maka dari itu bersiaplah untuk membawa seluruh perbekalan air yang diperlukan sejak dari titik awal pendakian.

Untuk kemanan dan kenyamanan pendakian, saya sarankan untuk memakai sepatu gunung berkualitas dengan bagian leher tinggi yang melindungi hingga bagian mata kaki. Karena trek menuju puncak sangat berpasir, saya sarankan juga untuk memakai gaiter sebagai pelindung tambahan agar partikel pasir tidak masuk kedalam sepatu.

***

Semoga cerita dan data dalam tulisan ini dapat bermanfaat untuk anda semua. Jangan lupa untuk tidak meninggalkan apapun selain jejak, tetap mengutamakan keselamatan saat melakukan pendakian, dan selalu gunakan peralatan mendaki standar. Salam Lestari!

0 comments