Malam tak Berbintang di Puncak Bongkok Gunung Sawal

Deretan pegunungan Sawal bagian utara dilihat dari puncak Bongkok
Suara bianatang malam tak banyak terdengar, bunyinya kalah telak oleh deru rintik hujan yang sejak tadi terus mengguyur bumi pertiwi. Di antara rapatnya pepohonan, samar-samar terlihat kelap-kelip lampu kota laksana taburan bintang. Karena hujan tak kunjung berhenti, tanjakan terjal yang sejak tadi terus meneror dalam gelap, kian sulit dilewati setapak-setapak kaki yang rasanya semakin berat.

“Awas ada ular!” seorang kawan yang berada di baris paling depan berteriak memberi peringatan. “Anjrit kepalanya ngembang men!” teriak saya agak panic sembari memandang ular yang terlihat siap menyerang. Entah ular kobra atau jenis lain yang tak saya tahu, ular berukuran sedang ini terlihat marah gara-gara tak sengaja tersenggol oleh tangan seorang kawan.

Yang berani melangkah dengan hati-hati, mudah saja melewati tanjakan sambil menghindari sang ular. Sementara saya dan seorang kawan di belakang masih ragu untuk lewat, nampaknya ia juga sama-sama takut dan agak phobia dengan hewan cantik sekaligus menyeramkan ini.

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya sang ular tampak mulai lelah terus memasang muka marah, kepalanya perlahan kembali kuncup, kemudian berlalu entah kemana. Kesempatan ini langsung saya gunakan untuk lewat secepat kilat, begitu pun dengan teman di belakang. Rasa lega mengembang di dada, karena pertemuan head to head pertama saya dengan ular di gunung berlangsung aman tanpa serangan.

***

Kejadian diatas adalah sedikit cuplikan perjalanan pendakian saya di Gunung Sawal, dengan tujuan Puncak Bongkok yang tingginya kurang lebih (cuma) 1400-an MDPL. Dari berbagai pengalaman pendakian sebelumnya ke gunung-gunung lain, perjumpaan langsung dengan hewan sangat jarang saya alami. Makanya, bagi saya pribadi, pengalaman ini cukup berkesan, apalagi dulu, di bagian lain Gunung ini, saya juga sempat mengalami perjumpaan dengan hewan liar lain seperti babi hutan dan ajag (anjing hutan).

Seperti yang sudah saya bahas di beberapa tulisan yang lalu, pegununungan Sawal merupakan sebuah kawasan Suaka Margasatwa yang berada di kota kelahiran saya. Karakter hutan di gunung ini masih cukup liar dan alami. Menurut info dari BKSDA, gunung Sawal masih menjadi rumah yang nyaman untuk berbagai jenis hewan liar, seperti elang, ular, babi hutan, monyet, macan kumbang, macan tutul, dan lain lain.

foto bersama kawan-kawan dari komunitas kemping bersama
Tak heran, setiap kali bertualang di gunung ini, selalu ada rasa was-was dan waspada jika satu waktu harus bertemu muka dengan hewan-hewan liar penghuni gunung. Dan terbukti, di pendakian kali ini, saya dan kawan-kawan dari komunitas kemping bersama harus berhadapan dengan ular liar di tengah jalur pendakian.

Pendakian malam berteman hujan

Sejak sebelum berangkat, cuaca memang sudah nampak tak akan bersahabat, awan gelap terus menggantung di langit sejak pagi hingga siang. Dan sorenya, hujan deras akhirnya turun memaksa kami menunda waktu keberangkatan.

Setelah berjam-jam menunggu, sekitar jam 5 sore akhirnya hujan mulai mereda. Kesempatan ini langsung kami gunakan untuk segera bermotor menuju Desa Palasari di daerah Cihaurbeuti Ciamis, sebagai titik awal pendakian menuju puncak Bongkok.

Sampai di Palasari, hujan gerimis masih tetap setia menemani. Setelah menitipkan kendaraan di pekarangan sebuah rumah milik warga, disusul ritual doa bersama, akhirnya perjalanan yang sudah saya nantikan sejak lama ini resmi dimulai.

Trek pendakian awal berupa pesawahan dan perkebunan warga. Hingga sampai di sekitar hutan pinus, medannya masih cukup bersahabat. Jalur yang dilalui agak cukup membingungkan, tak ada petunjuk jalan resmi dan banyaknya jalur bercabang yang sering digunakan para petani dan penyadap getah pinus, semakin membuat jalur ini sulit untuk diingat. Jika kawan-kawan ingin mendaki kesini, disarankan untuk membawa teman yang sudah berpengalaman mendaki gunung ini.

Setelah sampai di pos 1, jalur pendakian mulai berubah menanjak curam dengan karakteristik medan hutan rimba. Hujan yang tadi hanya berupa rintik-rintik kecil macam gerimis manja, kini kembali turun dengan volume yang lebih lebat. Beruntung sejak awal saya tak melepas jas hujan, tubuh dan bagian dalam keril pun aman dari basah.

Medan yang menanjak curam, disertai guyuran hujan yang membuat permukaan jalur menjadi licin benar-benar membuat saya kepayahan. Berkali-kali saya minta break karena tak sanggup mengimbangi speed mendaki kawan-kawan yang lain. Memperlambat perjalanan karena fisik yang payah seperti ini bikin saya agak malu juga sebenarnya, apalagi semua orang di grup pendakian kali ini benar-benar masih asing (saya baru kenalan dengan mereka sesaat sebelum keberangkatan).

Namun beruntung, meski baru kenal, mereka tak segan menunjukkan rasa solidaritas dan sikap yang baik sebagaimana biasanya sikap yang dimiliki para pendaki. Karena melihat saya begitu kepayahan, seorang kawan akhirnya menawarkan diri untuk menukar keril yang saya bawa dengan miliknya yang punya beban lebih ringan. Pertolongan ini jelas tak saya sia-siakan, karena saya pikir jika terus memaksakan diri membawa keril berat, nantinya malah akan membuat perjalanan semakin lambat.

Dengan keril yang lebih ringan, plus kondisi fisik yang mulai panas, perjalanan pun mulai kembali berjalan lancar. Di pos 2 kami istirahat sejenak, hujan nampaknya masih tak kunjung mau reda. Hutan rimba gunung Sawal yang gelap dan basah oleh hujan menyebarkan suasana damai yang menenangkan.

Setelah beberapa menit break, kami melanjutkan perjalanan menuju ke pos 3, tempat dimana sumber air berada. Karakteristik medan pendakian puncak Bongkok ini benar-benar cukup berat untuk dilalui, levelnya mirip-mirip medan pendakian Gunung Cikuray lah. Tanjakan-tanjakan yang harus dilewati punya kemiringan yang bisa membuat lutut kita sering bertemu dada. Selain itu, tak jarang juga ditemui tanjakan yang hanya bisa dilewati dengan bantuan pegangan pada akar pohon di kanan kiri jalur.

belantara Gunung Sawal yang masih cukup alami
Setelah cukup lama berjalan, pos 3 akhirnya kelihatan juga batang hidungnya. Shelter pos 3 ini nampaknya punya posisi ketinggian yang sudah cukup lumayan, dari sini, samar-samar kami bisa melihat gemerlap lampu kota yang mengintip diantara lebatnya pepohonan.

Sedikit melipir ke bagian kiri shelter, akan ditemui aliran sungai kecil yang bisa kita gunakan untuk mengisi perbekalan air untuk kebutuhan memasak dll. Konon, menurut teman yang sudah beberapa kali mendaki kesini, ada sebuah air terjun cantik tak jauh dari sungai kecil tempat dimana saya mengambil air.

Setelah puas beristirahat dan selesai mengambil persediaan air, perjalanan kami lanjutkan. Semangat semakin membuncah karena setelah pos ini kami akan mencapai puncak. Karena ini pengalaman pertama, saya kira jarak dari pos 3 menuju puncak cukup dekat, namun ternyata lumayan juga, hehe. Apalagi medan yang harus dilalui tidak memberikan banyak bonus, namun malah semakin menanjak terjal.

Di tengah perjalanan antara pos 3 dan puncak akan ditemui sebuah kawasan hutan bambu. Saya pikir agak aneh juga di tengah rimba gunung seperti ini, apalagi ketinggiannya mulai melewati angka seribu MDPL, kok bisa-bisanya banyak pohon bamboo yang tumbuh subur.

Seorang kawan tiba-tiba minta break karena mengalami kram. Karena merasa senasib sepenanggungan, saya coba tawarkan pertolongan untuk menukar keril ringan yang saya bawa. Namun, ia menolak dengan halus, karena tahu posisi puncak Bongkok sudah tak terlalu jauh lagi.

Akhirnya, setelah 4 jam pendakian ditemani hujan sepanjang malam, puncak Bongkok pun berhasil kita capai bersama. Tingginya memang tak seberapa (hanya sekitar 1400-an MDPL), pemandangannya pun tak terlalu spesial, namun kepuasan yang saya rasakan benar-benar melebihi pengalaman muncak di gunung-gunung yang lain yang lebih tinggi.

Maklum saja, puncak Bongkok ini sudah sejak lama saya idam-idamkan. Karena hampir setiap hari dalam perjalanan saya pulang-pergi Ciamis-Tasik, Puncak Bongkok selalu menjadi pemandangan indah diantara hamparan pegunungan Sawal yang selalu saya kagumi.

Keril saya letakkan dengan sembarang, pantat saya jatuhkan di permukaan rerumputan, sebatang rokok yang luput dari basah saya sulut dan hisap dengan nikmat. Setelah perjalanan panjang dan melelahkan, sejenak bersantai menikmati keindahan malam di tengah kemegahan alam adalah anugrah tak terkira yang diberikan Tuhan.

Meski tak berbintang, malam di puncak Bongkok tetap tak kehilangan pesonanya untuk kami nikmati dengan pelan dan perlahan namun dalam.

Hati-hati pacet!

Pacet adalah hewan sejenis lintah berukuran kecil yang habitat hidupnya di tempat-tempat lembab seperti karakteristik hutan Gunung Sawal. Tak heran di gunung ini, pacet tumbuh subur dan sering menyerang para pendaki. Gigitannya memang tak berasa, namun setelah kenyang menghisap darah kita, dan lepas dari kulit, bekas gigitannya bisa menimbulkan rasa gatal dan menjengkelkan. Dan setelah beberapa hari, luka tersebut bakal sulit hilang dan bisa menimbulkan bekas yang sangat mengganggu keindahan kulit.

Di pendakian ini, karena kurang mempersiapkan diri menghadapi serangan pacet, saya banyak kena di berbagai bagian tubuh yang terbuka, seperti kaki, tangan, dan pinggang. Kawan-kawan lain pun tak ada yang sukses bersih dari serangan pacet, semua kena gigitan di salah satu bagian tubuh masing-masing.

Untuk menghindari serangan pacet, usahakan menutup rapat bagian-bagian tubuh yang sering terbuka, seperti tangan, pergelangan kaki, dll. Untuk melepaskan pacet yang sedang menempel dikulit, bisa dengan menggunakan korek api, atau abu bekas rokok.


Tips mendaki Puncak Bongkok Gunung Sawal

puncak bongkok yang luasnya hanya cukup diisi sekitar 3-4 tenda
Usahakan untuk memilih waktu pendakian di hari yang cerah. Jika belum pernah mendaki gunung ini, disarankan mengajak teman yang sudah lebih berpengalaman, karena tak ada petunjuk jalur pendakian, sehingga bagi yang masih awan akan sangat rentan tersesat.

Bagi yang sudah berpengalaman, mendaki malam bisa jadi pilihan bagus untuk dilakukan, jika beruntung, saat mencapai puncak, anda akan bisa menikmati pemandangan malam yang indah.

Karena belum ada pos pendakian resmi, usahakan untuk menghubungi pihak desa setempat sebelum berangkat mendaki. Hormati adat istiadat setempat, dan jangat bersikap seenaknya saat memasuki kawasan rimba Gunung Sawal. Titik awal pendakian dimulai di Desa Palasari Kecamatan Cihaurbeuti Kabupaten Ciamis. Waktu tempuh perjalanan normanya hanya sekitar 3 jam saja.

Untuk persediaan air, bisa diambil di sungai kecil yang ada di sekitar Pos 3. Medan pendakian cukup terjal mirip medan pendakian Gunung Cikuray.

Berdoalah sebelum berangkat mendaki, dan selalu utamakan keselamatan. Semoga bermanfaat, salam lestari!


Comments

Popular Posts