Etika saat Berpapasan Jalur Pendakian


Saat mendaki gunung Ciremai beberapa bulan lalu, saya sempat mengalami beberapa kejadian yang kurang menyenangkan. Saat itu, karena jumlah pendaki yang sangat banyak, dan kondisi jalur yang sempit, berkali-kali saya terpaksa harus mengantri di beberapa titik.

Bagi kawan-kawan yang sudah pernah mengalami kejadian yang sama, pastinya tahu persis kalau mengantri di jalur pendakian itu benar-benar bikin bete dan kesel, apalagi kalau kebetulan kita harus mengantri di jalur yang punya tanjakan super terjal. Harus berdiri berlama-lama untuk mengantri membuat tubuh yang sudah kelelahan terasa semakin tersiksa, terutama kaki yang harus menopang seluruh tubuh, dan pundak yang menggendong keril super berat.

Namun, sebagai pendaki yang baik, mau tak mau kita harus rela dan sabar melakukannya, karena gunung bukan hanya milik kita sendiri, tapi milik bersama, jadi sudah sepantasnya jika semua pendaki harus saling berbagi ruang demi tercapainya kenyamanan bersama.

***

Saling berbagi jalur termasuk kedalam etika pendakian yang cukup penting, karena jika tidak disikapi dengan bijak, akan sangat rentan menimbulkan konflik antar pendaki. Konflik yang timbul bisa terjadi antara pendaki yang sedang naik dan turun gunung, ataupun antar pendaki yang berjalan searah. Misalkan kita sedang berjalan cepat karena mengejar target waktu, namun tiba-tiba perjalanan kita terhambat karena rombongan pendaki di depan berjalan sangat lambat, tak ada celah untuk menyalip karena jalur sempit, sedangkan mau minta izin untuk nyalip agak segan juga karena takut mengganggu perjalanan mereka, jadilah kita kesel sendiri.

Saat berpapasan dengan pendaki lain, baik yang searah ataupun yang berlawanan arah, sudah pasti salah satu pihak harus rela mengalah untuk memberikan jalur, namun pertanyaannya siapakah yang harus menepi untuk memberi ruang?


Pendaki Naik vs Pendaki Turun

Menurut apa yang saya pelajari sejak dulu, saat menghadapi situasi berpapasan dengan pendaki yang berlawanan arah, kelompok yang turun lah yang harus di dahulukan, dan para pendaki yang sedang naik harus rela menepi dan sedikit bersabar menunggu mereka lewat.

Apa alasannya? Karena menurut pandangan saya, biasanya mereka yang turun seringkali melangkah dengan cepat dan agak tergesa-gesa, bahkan kadangkala seringkali sambil berlari, sehingga sangat rentan bertabrakan dengan mereka yang sedang naik, atau parahnya bisa menimbulkan kecelakaan yang berakibat fatal.

Namun, itu hanya sebatas pendapat dan pandangan saya saja, yang saya pelajari dari pengalaman mendaki bersama dengan kawan yang sudah cukup berpengalaman di dunia pendakian. Dan setelah melakukan riset dengan membaca tulisan-tulisan yang dibuat oleh para petualang profesional, saya kemudian menjadi tahu, ternyata pendapat saya itu benar-benar salah!

Jadi menurut aturan umum pendakian, seharusnya para pendaki yang sedang naik lah yang harus diutamakan dan lebih berhak untuk menggunakan jalur lebih dulu dibanding mereka yang sedang turun gunung.

Seperti yang telah sedikit saya bahas di atas, saat dua kelompok pendaki berpapasan (pendaki yang sedang naik dan pendaki yang sedang turun gunung), kelompok yang lebih berhak untuk menggunakan jalur adalah pendaki yang sedang naik.

Menurut sumber yang saya baca, alasannya karena pendaki yang sedang naik memiliki jarak dan sudut pandang yang lebih sempit terhadap jalur di depannya, apalagi jika jalur yang harus dilalui punya kemiringan yang cukup ekstrem, otomatis jarak dan sudut pandang untuk melihat jalur di depan akan semakin sempit.

Bandingkan dengan mereka yang sedang turun, mereka jelas-jelas punya pandangan yang lebih luas untuk melihat seperti apa kondisi jalur yang akan dilalui di depan, karena letak jalur yang berada di bawah posisi mereka.

Selain itu, para pendaki yang sedang naik biasanya sedang berada dalam kondisi yang cukup repot dan melelahkan atau bahkan sedang kepayahan, sehingga mood mereka akan mudah memburuk manakala tiba-tiba harus menghentikan langkah karena ada pendaki lain yang sedang turun dengan tergesa-gesa.

Jadi jika sedang turun gunung lalu kemudian kita berpapasan dengan para pendaki yang sedang naik, alangkah baiknya untuk menghentikan langkah sejenak, berikan mereka ruang yang luas untuk menyelesaikan perjuangan menapaki tanjakan tersebut.

Kemungkinan untuk memakai jalur terlebih dahulu bisa dilakukan hanya jika mereka yang sedang naik memberikan lampu hijau kepada kita untuk lewat lebih dahulu, karena misal mereka ingin berhenti sejenak ditengah tanjakan untuk sekedar mengambil nafas, atau mungkin mereka enggan jadi tontonan saat sedang kepayahan menapaki tanjakan terjal, hehe.

Berpapasan dengan Pendaki yang Berjalan Searah

Sedangkan, untuk situasi yang berbeda, misalnya kita ingin menyalip pendaki di depan yang sama-sama sedang naik atau turun gunung, alangkah baiknya beritahukan dulu keberadaan diri kita sesaat sebelum mulai coba merangsek ke depan.

Jangan seenaknya nyelonong begitu saja, sekedar menyapa atau bilang "permisi" rasanya tak terlalu sulit untuk dilakukan. Dengan begitu, semua pendaki akan merasa senang dan nyaman, serta tak ada pihak yang merasa dirugikan. Jika ada niatan untuk nyelonong langsung menyalip, coba pikirkanlah jika misalnya kita berada dalam posisi mereka yang akan kita salip, tentu akan sangat menjengkelkan jika tiba-tiba ada pendaki yang nyelonong serudak-seruduk dari belakang kita tanpa bilang permisi.

***

Etika ini sangat penting untuk dipelajari terutama jika kita pergi mendaki dengan jumlah kelompok yang cukup banyak. Saat mendaki dengan rombongan yang cukup banyak, meski sedang melewati jalur yang cukup luas, cobalah untuk selalu berjalan dengan membentuk satu barisan, jangan seenaknya memenuhi jalur, sehingga menghambat pendaki lain yang akan lewat.

Jika satu waktu grup pendakian yang berisi banyak anggota berpapasan dengan pendaki yang berjalan seorang diri, sudah sepantasnya jika pendaki yang hanya seorang itu mengalah untuk menepi dan memberikan jalan kepada rombongan yang berisi lebih banyak orang untuk lewat.

Satu hal yang perlu diingat, jika kamu ragu-ragu dan masih bingung untuk menerapkan etika ini, cobalah untuk memperlakukan pendaki lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan oleh mereka. Lihatlah situasi dan kondisi dengan pandangan yang bijak, jangan bersikap egois dan ingin enak sendiri sampai-sampai membuat pendaki lain merasa tak enak hati. Selalu berusaha untuk menghormati, menghargai, dan saling berbagi tentu akan menimbulkan suasana damai di tengah dunia pendakian yang semakin ramai ini.


Itu saja yang bisa saya bahas, mudah-mudahan ada manfaatnya untuk kawan-kawan semua. Selalu utamakan keselamatan dalam setiap pendakian, dan selalu berusaha untuk tidak meninggalkan jejak, salam lestari!

Comments

Popular Posts