Hiking dan Camping di Gunung Papandayan

Keindahan alam di negeri ini tak perlu diragukan lagi, banyak tempat-tempat yang wajib untuk dikunjungi oleh para pecinta wisata keindahan alam. Pantai, laut, sungai, gunung dan gua dengan keindahannya banyak tersebar luas di sepanjang kepulauan Nusantara. Beruntunglah kita hidup di kepulauan indah ini, tanpa harus pergi ke luar negeri, mata kita selalu dimanjakan oleh panorama keindahan alam Indonesia. Kali ini penulis akan berbagi informasi mengenai salah satu destinasi wisata alam yang menawarkan keindahan alam pegunungan, yakni Gunung Papandayan.

Kawah Papandayan terlihat dari tempat parkir kendaraan

Papandayan merupakan gunung api aktif berbentuk stratovolcano. Gunung dengan ketinggian 2665 mdpl ini memiliki beberapa kawah yang tak pernah berhenti mengeluarkan uap panas dari dalamnya. Gunung ini tercatat pernah meletus beberapa kali, diantaranya pada tahun1772, 1923,1942, dan yang terbaru november tahun 2002 lalu. Gunung ini berada di Kabupaten Garut, Jawa Barat, tepatnya berada di kecamatan Cisurupan. Selain lokasinya tak terlalu jauh dari kota, akses jalan menuju kawasan wisata ini juga tergolong sangat baik, jalan aspal dan beton yang menanjak akan membawa anda menuju pos pendakian. Untuk kawan-kawan yang berangkat dengan motor hanya perlu membayar Rp.15.000,- di pos pendakian sekaligus mengisi formulir pendaftaran, dan Rp.10.000,- untuk biaya parkir.

Pos pendaftaran

Setelah melakukan pendaftaran dan mengamankan kendaraan, perjalanan dimulai dengan trek berbatu menuju kawah. Pemandangan bebatuan dan gersangnya kawah Papandayan akan mengiringi perjalanan awal kita, trek yang dilalui lumayan terjal dengan beberapa tanjakan yang tak terlalu curam. Bau belerang akan tercium sangat pekat kita ketika semakin dekat dengan kawah.

Pemandangan awal, terlihat kepulan asap dari kawah di kejauhan

Kawah Papandayan terus mengepulkan asap

Sebenarnya dari sekitar kawah kita dapat langsung menuju hutan mati lewat jalur menanjak ke atas, namun dikarenakan sering terjadi longsor, jalur ini ditutup untuk pendakian. Perjalanan dilanjutkan dengan trek menurun menuju sungai Cisaladah, yang membelah gunung Papandayan, dan kemudian kembali naik menuju pos 2. Medan yang dilalui lumayan terjal dengan tebing-tebing yang curam di tepi jalur pendakian. Jika cuaca kurang bersahabat, jalur ini akan menjadi sangat licin untuk dilalui, perlu ekstra hati-hati untuk sampai di pos 2.


Sungai Cisaladah

Dari pos 2, perjalanan dilanjutkan dengan jalur hutan di pinggiran tebing. Jalur ini akan membawa kita menuju Pondok Seladah, tempat yang dianjurkan untuk berkemah, karena ada larangan untuk berkemah di Tegal Alun. Pondok Seladah merupakan area lapang yang lumayan luas, para pendaki biasanya ramai bermalam di sini. Selain itu terdapat pula sumber air dan toilet. Di sekitar Pondok Seladah terdapat beberapa padang edelweiss, memang tak seluas di Tegal Alun, namun cukup indah juga untuk dinikmati. Keindahan alam di sini sangat nyaman untuk dinikmati, terutama saat matahari pagi mulai menyapa para pendaki.

Pondok Seladah

Tenda para pendaki bertebaran di sini

Padang Edelweiss di sekitar Pondok Seladah

Tujuan selanjutnya adalah hutan mati dan tegal alun. Perjalanan dapat dilakukan dari pondok Seladah, medan yang di lalui tidak terlalu berat. Pemandangan padang edelweiss di Tegal alun lebih bagus dari pada di sekitar Pondok Seladah, selain karena jumlahnya yang sangat banyak, hamparan padang di tegal alun juga sangat luas, cocok untuk dinikmati dengan bersantai ria.

Tegal Alun

Pemandangan hamparan padang edelweiss

Selanjutnya, Pesona hutan mati tak boleh terlewatkan. Sekumpulan sisa-sisa pohon terbakar berkumpul di sini, hal ini terjadi akibat letusan Papandayan yang terjadi di tahun 2002. Suasana horor tercipta disini layaknya lembah kematian dalam film-film pendekar. Keunikan hutan mati menjadi salah satu magnet yang menarik wisatawan untuk berfoto di sini.

Hutan mati saat langit cerah

Pohon baru yang akan menggantikan para seniornya yang mati terbakar

Keindahan alam Gunung Papandayan begitu mempesona, Tuhan dengan segala kemahaan-Nya telah memberikan kita kesempatan menikmati karya-Nya yang gemilang. Sepatutnya kita bersyukur dengan menjaga dan melestarikan keindahan itu, bukan malah merusaknya. Sayang, kawasan ini sedikit ternodai lewat tangan-tangan nakal yang mencoreti bebatuan dan memetik bunga-bunga abadi yang ada di sana. Mudah-mudahan kesadaran masyarakat kita dalam melestarikan alam akan lebih baik ke depannya, agar keindahan ini dapat tetap dinikmati oleh anak cucu kita kelak. Jadilah penikmat alam yang dewasa dan bijaksana. Pesan-pesan moral sudah tertera sejak di gerbang masuk kawasan, cobalah untuk kita taati peratuaran yang ada, demi kelestarian alam tercinta ini. Salam Lestari!

Pesan Moral untuk para Pengunjung

Comments